BITHAQAH (KARTU)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh Allah akan membebaskan seseorang
dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari
kiamat. Ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa)
miliknya. Setiap gulungan dosa panjangnya sejauh
mata memandang.
Kemudian Allah berfirman,
‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua
catatan ini, apakah (para) malaikat pencatat amal
telah menganiayamu?’ Dia menjawab, ‘Tidak,
wahai Rabbku’.
Allah bertanya, ‘Apakah engkau memiliki udzur
(alasan)?’
Dia menjawab, ‘Tidak wahai Rabbku’.
Allah berfirman, ‘Bahkan sesungguhnya engkau
memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh
pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikit
pun’.
Kemudian dikeluarkanlah sebuah bithaqah (kartu)
bertuliskan ‘Asyhadu an laa ilaha illallah wa
asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa
rasuluh’.
Lalu Allah berfirman, ‘Datangkan timbanganmu’.
Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini
dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?’
Allah berfirman, ‘Sungguh kamu tidak akan
dianiaya’.
Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan
tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu
pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-
gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa
ilaha illallah) lebih berat.
Demikianlah, tidak ada satupun yang lebih berat
dari sesuatu yang padanya terdapat nama Allah.”
(HR. Tirmidzi, shahih)
¯) ♥ღ ¸. •
Lantas apakah fenomena masuk surga dengan
sebab bithaqah (kartu) ini berlaku bagi setiap orang
yang mengucapkan laa ilaaha illallaah?
Pertama,
hendaklah diingat bahwa dhahir hadits ini
digunakan kata “rojulun”, bentuk tunggal yang
menunjukkan makna “seorang”. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa hadits ini hanya berlaku untuk
satu orang saja.
Kedua,
sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih bin
‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh, keutamaan ini tidaklah
didapat melainkan oleh seseorang yang kadar
tauhid dalam hatinya sangat besar, demikian pula
dengan rasa cintanya kepada Allah Jalla wa ‘Alla
dan RasulNya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ikhlas
kepada Allah, bertauhid baik dalam rububiyah
(ketuhanan), uluhiyah (peribadahan), dan asma’ wa
shifat (nama-nama dan sifat-sifatNya).
Tiga Golongan Manusia
Berdasarkan ayat dan hadits yang telah disebutkan,
Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh
hafizhahullahu ta’ala menyimpulkan bahwa
manusia dibagi dalam tiga golongan, yaitu :
1. Mereka yang mentahqiq tauhid, yaitu bersih dari
syirik, baik syirik akbar maupun ashghar, segala
bentuk kemaksiatan dan dosa, baik dosa besar
maupun kecil (yaitu terhapus dengan taubat
nasuha –pen), dan beramal shalih sesuai dengan
apa yang diperintahkan Allah Jalla wa ‘Alla. Mereka
ini tergolong dalam orang-orang yang masuk
surga tanpa hisab dan adzab, dan berjumlah
70.000 dari ummat ini. Inilah medan juang bagi
setiap manusia, dan hendaklah masing-masing
berupaya meraih keutamaan ini. Semoga Allah
Ta’ala memberikan taufiq pada kita.
2. Mereka yang beramal dengan tauhid, namun
mereka bercampur antara amalan shalih dan
amalan buruk. Mereka ini terbagi lagi ke dalam
golongan sebagai berikut :
a. Golongan yang bertaubat kepada Allah, mereka
akan menjadi sebagaimana golongan pertama
b. Golongan yang bertemu Allah dengan
membawa dosa-dosa besar namun tanpa diiringi
taubat, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan
mengampuni bagi siapa saja yang Ia kehendaki,
dan mengadzab siapa saja yang Ia kehendaki (lihat
QS. An Nisa’ : 116 -pen). Apabila Allah berkehendak
mengadzab mereka, yang dimaksud bukanlah
adzab neraka secara kekal. Melainkan sesuai
dengan kadar dosa yang telah mereka perbuat.
c. Golongan yang amal buruknya lebih banyak
apabila ditimbang, akan tetapi amalan tauhidnya
mengalahkan timbangan amal buruk, dan inilah
keutamaan dari Allah Jalla wa ‘Alla
3. Seseorang yang datang dengan membawa
kadar tauhid yang besar, namun ia membawa
berbagai dosa dan kesalahan. Maka kondisinya
adalah seperti yang terdapat dalam hadits
bithaqah. . Adapun apabila kadar tauhidnya lemah,
maka ia tetap akan dimasukkan ke dalam neraka.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.
AAMIIN
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh Allah akan membebaskan seseorang
dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari
kiamat. Ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa)
miliknya. Setiap gulungan dosa panjangnya sejauh
mata memandang.
Kemudian Allah berfirman,
‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua
catatan ini, apakah (para) malaikat pencatat amal
telah menganiayamu?’ Dia menjawab, ‘Tidak,
wahai Rabbku’.
Allah bertanya, ‘Apakah engkau memiliki udzur
(alasan)?’
Dia menjawab, ‘Tidak wahai Rabbku’.
Allah berfirman, ‘Bahkan sesungguhnya engkau
memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh
pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikit
pun’.
Kemudian dikeluarkanlah sebuah bithaqah (kartu)
bertuliskan ‘Asyhadu an laa ilaha illallah wa
asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa
rasuluh’.
Lalu Allah berfirman, ‘Datangkan timbanganmu’.
Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini
dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?’
Allah berfirman, ‘Sungguh kamu tidak akan
dianiaya’.
Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan
tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu
pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-
gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa
ilaha illallah) lebih berat.
Demikianlah, tidak ada satupun yang lebih berat
dari sesuatu yang padanya terdapat nama Allah.”
(HR. Tirmidzi, shahih)
¯) ♥ღ ¸. •
Lantas apakah fenomena masuk surga dengan
sebab bithaqah (kartu) ini berlaku bagi setiap orang
yang mengucapkan laa ilaaha illallaah?
Pertama,
hendaklah diingat bahwa dhahir hadits ini
digunakan kata “rojulun”, bentuk tunggal yang
menunjukkan makna “seorang”. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa hadits ini hanya berlaku untuk
satu orang saja.
Kedua,
sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih bin
‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh, keutamaan ini tidaklah
didapat melainkan oleh seseorang yang kadar
tauhid dalam hatinya sangat besar, demikian pula
dengan rasa cintanya kepada Allah Jalla wa ‘Alla
dan RasulNya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ikhlas
kepada Allah, bertauhid baik dalam rububiyah
(ketuhanan), uluhiyah (peribadahan), dan asma’ wa
shifat (nama-nama dan sifat-sifatNya).
Tiga Golongan Manusia
Berdasarkan ayat dan hadits yang telah disebutkan,
Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh
hafizhahullahu ta’ala menyimpulkan bahwa
manusia dibagi dalam tiga golongan, yaitu :
1. Mereka yang mentahqiq tauhid, yaitu bersih dari
syirik, baik syirik akbar maupun ashghar, segala
bentuk kemaksiatan dan dosa, baik dosa besar
maupun kecil (yaitu terhapus dengan taubat
nasuha –pen), dan beramal shalih sesuai dengan
apa yang diperintahkan Allah Jalla wa ‘Alla. Mereka
ini tergolong dalam orang-orang yang masuk
surga tanpa hisab dan adzab, dan berjumlah
70.000 dari ummat ini. Inilah medan juang bagi
setiap manusia, dan hendaklah masing-masing
berupaya meraih keutamaan ini. Semoga Allah
Ta’ala memberikan taufiq pada kita.
2. Mereka yang beramal dengan tauhid, namun
mereka bercampur antara amalan shalih dan
amalan buruk. Mereka ini terbagi lagi ke dalam
golongan sebagai berikut :
a. Golongan yang bertaubat kepada Allah, mereka
akan menjadi sebagaimana golongan pertama
b. Golongan yang bertemu Allah dengan
membawa dosa-dosa besar namun tanpa diiringi
taubat, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan
mengampuni bagi siapa saja yang Ia kehendaki,
dan mengadzab siapa saja yang Ia kehendaki (lihat
QS. An Nisa’ : 116 -pen). Apabila Allah berkehendak
mengadzab mereka, yang dimaksud bukanlah
adzab neraka secara kekal. Melainkan sesuai
dengan kadar dosa yang telah mereka perbuat.
c. Golongan yang amal buruknya lebih banyak
apabila ditimbang, akan tetapi amalan tauhidnya
mengalahkan timbangan amal buruk, dan inilah
keutamaan dari Allah Jalla wa ‘Alla
3. Seseorang yang datang dengan membawa
kadar tauhid yang besar, namun ia membawa
berbagai dosa dan kesalahan. Maka kondisinya
adalah seperti yang terdapat dalam hadits
bithaqah. . Adapun apabila kadar tauhidnya lemah,
maka ia tetap akan dimasukkan ke dalam neraka.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.
AAMIIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar