Jumat, 02 November 2012

KETIKA MASJID DAN RUMAH BORDIR ROBOH ...
Bismillahir-Rah manir-Rahim ....
ADA DUA LELAKI. Keduanya adalah saudara
kandung. Lahir di dalam keluarga yang taat
beragama. Namun perilaku dua orang itu berbeda
dan akhir hidup mereka juga berbeda.
Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli
ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak
suka hura-hura. Tak pernah menyentuh gelas
minuman keras apalagi meminumnya. Waktu
mudanya banyak dihabiskan di masjid. Ia juga
tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan
mahramnya. Pernah ia dirayu seorang gadis cantik
yang masih sepupunya, namun ia teguh dalam
keimanannya. Karena amal perbuatannya yang
baik dan akhlaknya ia dicintai oleh keluarga dan
masyarakat.
Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan
kakaknya. Sejak kecil ia dikenal nakal. Sejak remaja
sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah bordil
adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia
mabuk dan melakukan pelbagai macam maksiat di
rumah bordil miliknya itu. Kadang-kadang ia juga
ikut gerombolan perampok, untuk merampas
harta orang lain. Saat merampok ia bahkan
terkadang juga melakukan pemerkosaan. Hampir
segala jenis maksiat dan perbuatan yang
menjijikan telah ia lakukan untuk memuaskan
hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu membuat
dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.
Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah
merenung. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya
berkata padanya,
“Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan
beribadah. Kau telah mendapat tempat di hati
masyarakat dan dikenal sebagai orang baik.
Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya
hidup sedikitpun. Kenapa tidak sesekali kau datang
ke tempat adikmu menghibur diri di rumah
bordilnya. Sesekali saja. Setelah itu kau bisa tobat.
Kau bisa membaca istighfar ribuan kali dalam
sholat tahujjud. Bukankah Allah itu Maha
Pengampun ?”
Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam
pikirannya. Setan pun dengan sangat halus masuk
melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata pada
diri sendiri, “Benar juga. Kenapa aku tidak sesekali
menghibur diri? Hidup cuma sekali. Nanti malam
aku mau menari dan bersenang-senan g bersama
wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu
aku pulang dan bertobat kepada Allah Swt. Dia
Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.”
Sementara di rumah bordil. Adiknya juga
merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang
dijalaninya. Nuraninya berkata,
“Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang
dosa. Bermacam maksiat telah aku lakukan.
Apakah aku akan hidup begini terus? Keluarga
membenciku karena perbuatanku. Juga
masyarakat, mereka memusuhiku karena
kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup
baik-baik seperti kakak. Ah, bagaimanakah besok
kalau aku telah mati. Bagaimana aku
mempertanggungj awabkan perbuatanku. Kalau
begini terus kelak aku akan masuk neraka. Hidup
susah di akhirat sana. Sementara kakakku akan
hidup nikmat di surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup
dalam lembah maksiat terus. Aku harus mencoba
hidup di jalan yang lurus. Nanti malam habis
maghrib aku akan ke masjid tempat kakak
beribadah. Aku mau tobat dan ikut shalat. Aku
mau kembali ke pangkuan Allah Swt. Aku mau
beribadah sepanjang sisa hidupku. Semoga saja
Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah
lalu.”
Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara
itu melakukan niatnya masing-masing. Usai shalat
maghrib, sang kakak kembali ke rumah, ganti
pakaian dan bergegas menuju rumah bordil.
Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan
rumah bordil begitu mendengar suara azan
maghrib. Jalan yang diambil dua bersaudara itu
tidak sama, sehingga keduanya tidak berjumpa di
tengah jalan.
Sampai di rumah bordil sang kakak mencari
adiknya. Namun tidak ada. Orang-orang yang ada
di rumah bordil tidak ada yang tahu kemana
adiknya itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia
tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai
akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang
diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama
para penari dan pelacur.
Di tempat lain, sang adik sampai masjid tempat
kakaknya biasa ibadah. Ia sudah bertekad bulat
untuk tobat meninggalkan semua perbuatan
buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke
dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata
tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu
beritikaf di masjid usai maghrib sampai isya. Ia
bertanya pada penjaga masjid, namun ia tidak tahu
kemana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya
niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan
beristighfar sebanyak-banyak nya dengan mata
bercucuran air mata.
Tiba-tiba bumi tergoncang dengan hebatnya.
“Awas ada gempa ! Ada gempa !” teriak orang-
orang di jalan.
Orang-orang panik keluar dari rumah untuk
menyelamatkan diri. Takut kalau-kalau rumah
mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam
kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam
masjid. Ia tidak merasakan ada gempa. Demikian
juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di
rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan
gempa. Goncangan gempa malam itu cukup
keras. Beberapa bangunan roboh. Termasuk
masjid dan rumah bordil.
Keesokan harinya. Sang kakak ditemukan tewas
diantara reruntuhan rumah bordil di samping
mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang
memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan
tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua
tangannya mendekap sebuah mushaf di dada.
Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik
itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir,
orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok bisa
tewas dengan cara yang sedemikian tragisnya.
Sedangkan adiknya yang selama ini dikenal ahli
maksiat kok bisa husnul khatimah. Dengan
peristiwa itu orang-orang diberi pelajaran yang
sangat berharga. Bahwa kematian bisa datang
kapan saja. Hanya Allah yang tahu. Maka jangan
sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu
saat sedang menuruti hawa nafsu itulah maut
menjemput. Na’udzubillahi min dzalik. Bahwa niat
baik harus selalu dijaga, agar Allah Swt
menganugerahkan akhir hidup yang indah. Akhir
hidup yang diridhai-Nya.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan
dan keistiqomahan berada dalam jalan-Mu.
Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah.
Amin, ya Rabbal ‘Alamin.”
~ o ~
Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari
Allah ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar